Ini kisah nyata yang terjadi baru-baru ini, tepatnya tanggal 28 November 2010. Waktu itu saya dan teman saya Sandhi hendak ke vihara Vimala Dharma (VVD), kami janjian kumpul di senpus jam 07.30. Saat kami berdua telah berkumpul, langsung saja kami naik angkot Ciumbuleuit untuk turun ke simpang. Waktu itu kami cuma berdua di dalam angkot dan setelah sampai di simpang, kami ganti angkot Kelapa Ledeng menuju VVD. Kami nunggu angkot Kelapa Ledeng dan lalu angkot tsb datang. Saat saya mau naik angkot, tiba-tiba datang sepeda motor menghadang saya masuk angkot, sedangkan Sandhi masih berada di belakangku. Saya jengkel dengan orang yang menghadangku waktu mau masuk angkot. Dia bilang : "maaf-maaf, puntung rokok saya jatuh". Tanpa pikir panjang lagi, saya pun langsung masuk angkot. Tapi waktu Sandhi hendak masuk angkot juga, ada orang berjaket jeans biru yang sama dengan pengandara motor tadi di belakang Sandhi. Sandhi pun cepat-cepat masuk angkot. Saya mulai berpikir negatif bahwa orang ini hendak mencopet kami. Sandhi juga bilang kalo orang tadi sering menghadang dia masuk angkot tanpa sebab.
Lalu tanpa disangka, kami ketemu ci Lilis dan yang lainnya. Untungnya kami jadi rame karena ada yang lainnya. Saat kami sampai di BEC, kami turun disana untuk jalan lagi menuju VVD. Saat kami hendak menyebrang jalan, saya lihat lagi ada orang yang berjaket jeans biru ini. " Ini kan orang yang tadi mencegat kami masuk angkot, kenapa ada disini lagi?" Waktu itu juga firasat saya bilang orang ini mau berbuat copet ternyata benar. Setelah kami menyebrang sampai di trotoar seberang, orang berjaket tadi tiba-tiba menabrak Sandhi dari belakang dengan menjatuhkan puntung rokok.
Saya jelas-jelas melihat dengan mataku sendiri, orang tsb dengan 'tangan kilatnya' mencoba membuka kantong celana Sandhi untuk mengambil dompet. Di saat itula, si copet ngomong : Maaf-maaf, mau ambil puntung rokok saya, tadi terjatuh". Untungnya Sandhi cepat-cepat reflek bertolak badan menghindari copet itu semakin menjadi.
Cepat-cepat kami meneruskan langkah kami menuju VVD dan pergilah copet tadi karena gagal aksinya. Sandhi bilang bahwa dua copet tadi sudah ada waktu di senpus tadi pagi di depan unpar. Sepertinya copet tadi sudah mengincar Sandhi sejak berangkat.
Waktu di trotoar, si copet juga memegang leher temanku itu. Entah mau hipnotis ato yang lannya saya gak tahu apa rencana mereka. Tapi yang pasti aksi mereka benar-benar nyata di hadapanku secara langsung.
Sebenarnya, salah Sandhi juga karena memakai celana santai setengah tiang dengan dompet yang kelihata mencolok di kantong celananya. Paginya juga Sandhi habis menarik uang lewat atm di senpus. Otomatis ini membuat si copet jadi kian tertarik untuk merampas harta dia.
Saya bilang benar-benar keterlaluan tuh copet. Berani-beraninya mereka mencopet waktu kami rame-rame ( 9 orang waktu itu). Tidakkah mereka bisa pikir bahwa aksi mereka itu kurang ajar dan nekad, mencopet di jalanan ramai dengan banyak orang di kelompok kami, di depan pos polisi pulak. Ngapain juga mencopet 'orang yang tidak punya duit', coba copet itu korruptor yang merajalela. Saya hanya bisa diam waktu itu karena tidak ingin lagi terjadi sesuatu yang berbahaya. Jika copet tadi berani lagi menjalankan aksinya untuk ketiga kalinya, saya gak takut untuk menegur mereka dan melaporkan ke poisi.
Ternyata, tidak hanya Jakarta saja dimana copet dan pencurian merajalela, baik di Bandung maupun tempat lainnya kurasa copet ada. Mereka menggunakan segala cara untuk mendapatkan 'hasil emasnya' yang mereka inginkan. Mulai dari sandiwara sampai hipnotis pun dilakukannya. Tak mengenal waktu dan tempat, kesempatan dan situasi, dengan modal nekad, mereka berani menjalankan aksinya.
Ini adalah pelajaran bagiku untuk selalu waspada di setiap tempat dan situasi. Ternyata pikiran 'negatif' tidaklah selalu salah, Dari pikiran negatif tadi, saya bisa meningkatkan kewaspadaan untuk bergerak ke depan dengan lebih baik. Jika saja tidak ada kewaspadaan tadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Sandhi. Karena saya sudah memperingatkan dia untuk hati-hati jika terjadi yang beginian.
Saran saya jika ingin berpergian ke suatu tempat, jangan pernah sendirian. Ini bersembilan saja copetnya masih berani, apalagi cuma berdua ato sendirian.
Lalu, jangan berpenampilan mencolok bahwa kita ini banyak uang, terutama cewek yang selalu jadi sasaran copet. Dan juga kewaspadaan dan kesadaran kita memang harus ada setiap saat. Sepeti yang kita ketahui, aksi hipnotis para copet juga tidak kalah banyaknya di zaman sekarang. Banyak teman-temanku cerita bahwa dia pernah kecopetan dan kena hipnotis dan hilang hp dan dompet mereka, di Bandung ini juga.
So, intinya waspada saja dan selalu sadar tiap saat terhadap SIKON yang ada.
Sekian ^.^
NB : Semoga Sandhi tidak takut lagi untuk berpergian :D
No comments:
Post a Comment