Tuesday, 7 December 2010

Copet Zaman Sekarang

Ini kisah nyata yang terjadi baru-baru ini, tepatnya tanggal 28 November 2010. Waktu itu saya dan teman saya Sandhi hendak ke vihara Vimala Dharma (VVD), kami janjian kumpul di senpus jam 07.30. Saat kami berdua telah berkumpul, langsung saja kami naik angkot Ciumbuleuit untuk turun ke simpang. Waktu itu kami cuma berdua di dalam angkot dan setelah sampai di simpang, kami ganti angkot Kelapa Ledeng menuju VVD. Kami nunggu angkot Kelapa Ledeng dan lalu angkot tsb datang. Saat saya mau naik angkot, tiba-tiba datang sepeda motor menghadang saya masuk angkot, sedangkan Sandhi masih berada di belakangku. Saya jengkel dengan orang yang menghadangku waktu mau masuk angkot. Dia bilang : "maaf-maaf, puntung rokok saya jatuh". Tanpa pikir panjang lagi, saya pun langsung masuk angkot. Tapi waktu Sandhi hendak masuk angkot juga, ada orang berjaket jeans biru yang sama dengan pengandara motor tadi di belakang Sandhi. Sandhi pun cepat-cepat masuk angkot. Saya mulai berpikir negatif bahwa orang ini hendak mencopet kami. Sandhi juga bilang kalo orang tadi sering menghadang dia masuk angkot tanpa sebab.


Lalu tanpa disangka, kami ketemu ci Lilis dan yang lainnya. Untungnya kami jadi rame karena ada yang lainnya. Saat kami sampai di BEC, kami turun disana untuk jalan lagi menuju VVD. Saat kami hendak menyebrang jalan, saya lihat lagi ada orang yang berjaket jeans biru ini. " Ini kan orang yang tadi mencegat kami masuk angkot, kenapa ada disini lagi?" Waktu itu juga firasat saya bilang orang ini mau berbuat copet ternyata benar. Setelah kami menyebrang sampai di trotoar seberang, orang berjaket tadi tiba-tiba menabrak Sandhi dari belakang dengan menjatuhkan puntung rokok.


Saya jelas-jelas melihat dengan mataku sendiri, orang tsb dengan 'tangan kilatnya' mencoba membuka kantong celana Sandhi untuk mengambil dompet. Di saat itula, si copet ngomong : Maaf-maaf, mau ambil puntung rokok saya, tadi terjatuh". Untungnya Sandhi cepat-cepat reflek bertolak badan menghindari copet itu semakin menjadi.

Cepat-cepat kami meneruskan langkah kami menuju VVD dan pergilah copet tadi karena gagal aksinya. Sandhi bilang bahwa dua copet tadi sudah ada waktu di senpus tadi pagi di depan unpar. Sepertinya copet tadi sudah mengincar Sandhi sejak berangkat.


Waktu di trotoar, si copet juga memegang leher temanku itu. Entah mau hipnotis ato yang lannya saya gak tahu apa rencana mereka. Tapi yang pasti aksi mereka benar-benar nyata di hadapanku secara langsung.

Sebenarnya, salah Sandhi juga karena memakai celana santai setengah tiang dengan dompet yang kelihata mencolok di kantong celananya. Paginya juga Sandhi habis menarik uang lewat atm di senpus. Otomatis ini membuat si copet jadi kian tertarik untuk merampas harta dia.


Saya bilang benar-benar keterlaluan tuh copet. Berani-beraninya mereka mencopet waktu kami rame-rame ( 9 orang waktu itu). Tidakkah mereka bisa pikir bahwa aksi mereka itu kurang ajar dan nekad, mencopet di jalanan ramai dengan banyak orang di kelompok kami, di depan pos polisi pulak. Ngapain juga mencopet 'orang yang tidak punya duit', coba copet itu korruptor yang merajalela. Saya hanya bisa diam waktu itu karena tidak ingin lagi terjadi sesuatu yang berbahaya. Jika copet tadi berani lagi menjalankan aksinya untuk ketiga kalinya, saya gak takut untuk menegur mereka dan melaporkan ke poisi.


Ternyata, tidak hanya Jakarta saja dimana copet dan pencurian merajalela, baik di Bandung maupun tempat lainnya kurasa copet ada. Mereka menggunakan segala cara untuk mendapatkan 'hasil emasnya' yang mereka inginkan. Mulai dari sandiwara sampai hipnotis pun dilakukannya. Tak mengenal waktu dan tempat, kesempatan dan situasi, dengan modal nekad, mereka berani menjalankan aksinya.


Ini adalah pelajaran bagiku untuk selalu waspada di setiap tempat dan situasi. Ternyata pikiran 'negatif' tidaklah selalu salah, Dari pikiran negatif tadi, saya bisa meningkatkan kewaspadaan untuk bergerak ke depan dengan lebih baik. Jika saja tidak ada kewaspadaan tadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Sandhi. Karena saya sudah memperingatkan dia untuk hati-hati jika terjadi yang beginian.


Saran saya jika ingin berpergian ke suatu tempat, jangan pernah sendirian. Ini bersembilan saja copetnya masih berani, apalagi cuma berdua ato sendirian.

Lalu, jangan berpenampilan mencolok bahwa kita ini banyak uang, terutama cewek yang selalu jadi sasaran copet. Dan juga kewaspadaan dan kesadaran kita memang harus ada setiap saat. Sepeti yang kita ketahui, aksi hipnotis para copet juga tidak kalah banyaknya di zaman sekarang. Banyak teman-temanku cerita bahwa dia pernah kecopetan dan kena hipnotis dan hilang hp dan dompet mereka, di Bandung ini juga.

So, intinya waspada saja dan selalu sadar tiap saat terhadap SIKON yang ada.

Sekian ^.^


NB : Semoga Sandhi tidak takut lagi untuk berpergian :D

My XI IPA 2's Story

Kejadian ini terjadi waktu aku kelas XI IPA 2. Waktu itu siangnya kira-kira jam 2 sore pas pelajaran pak Hermanto, Bahasa Inggris, saya berbuat curang terhadap si bapak dan teman-teman sekelas. Saat pelajaran bahasa inggris, banyak teman-teman yang lain membawa buku Biologi untuk belajar ke dalam lab bahasa, dan saya pun juga membawanya. Karena habis pelajaran pak Hermanto adalah pelajaran Biologi bu Hastuti. Dan di pelajaran biologi nantinya ada ulangan. So kami kebanyakan bawa buku biologi untuk belajar saat di lab bahasa, pelajaran pak Hermanto.



Saat di kelas, memang kebanyakan dari kami tidak memperhatikan pelajaran pak Hermanto dan sibuk menghapal biologi, termasuk saya juga. Pak Hermanto tahu bahwa kami banyak tidak menyimak dan malah belajar biologi. Di penghujung jam kelas pak Hermanto merazia kami siapa saja yang membawa buku biologi ke dalam kelasnya. Serentak kami terkejut, habisnya jika ketahuan ada yang bawa, maka nilai bahasa inggrisnya di buat 0 atau menyerahkan buku biologi tersebut ke bapak dan nantinya akan di laporkan ke bu Hastuti bahwa kami tidak menyimak pelajaran bapak.



Saya pun panik karena saya membawa buku catatan biologi juga. Mulailah pak Hermanto memanggil kami sesuai absen. Ada teman saya yang kedapatan membawa buku biologi dan bukunya disita sama pak Hermanto.

Banyak cara saya pikir gimana supaya bisa keluar dengan selamat tanpa ada nilai 0 atau buku disita. Mau titip teman saya yang udah keluar tidak bisa, pasti nanti ketahuan. Lalu saya kepikiran untuk menyembunyikan buku sementara di lubang meja sebelahku. Kebetulan mejanya bisa dibuka karena rusak. Dan saya pun langsung menyembunyikan 3 bukuku di dalam meja tsb dan giliran saya pun dipanggil.



Pak Hermanto memeriksa setiap selipan buku bahasa Inggris jika ada buku lain selain buku pelajarannya. Pak Hermanto pun bilang bahwa saya "anak baik" karena tidak bawa buku yang lainnya. Serentak kemudian saya keluar dari ruangan dan kembali ke kelas. Sampai di kelas, saya kebinggungan bagaimana mengambil buku biologi saya kembali. Teman saya bilang saya bisa ambil itu buku saat ada pelajaran dia lagi tapi resikonya jika menunggu sampai minggu depan, buku itu bisa ketahuan dan dilaporkan ke pak Hermanto dan saya pun dapat hukuman yang lebih berat.



Dalam keadaan takut dan gelisah, langsung saja saya balik kembali ke lab bahasa untuk diam-diam mengambil buku biologiku kembali tanpa ketahuan. Ternyata, sampai di kelas udah sampai huruf absen T dan sebentar lagi selesai kelasnya. Dengan perasaan takut bercampur berani, saya pun masuk ke dalam lab bahasa dan pergi ke tempat duduk saya. Pak Hermanto untungnya lagi sibuk memerikasa teman saya. Dengan cepat, saya langsung membuka "laci" meja, mengambil 3 buku biologiku kembali dan cepat-cepat keluar ruangan dengan ekspresi pura-pura barusan keluar dari ruangan. Setelah keluar ruangan, saya gembira dan deg-degan karena telah berhasil mengambil kembali buku biologiku dan selamat dari hukuman!



Banyak teman-temanku yang kedapatan membawa buku biologi. Mereka pasrah bukunya disita. Saya merasa bersalah dan berat hati terhadap temanku yang lain. Karena cuma saya yang lolos dari razia pak Hermanto. Kejadian ini cukup sekali saja dan berjanji tidak akan terulang kembali.





Sekian pengalaman saya ^.^